BREAKING NEWS

YAYASAN PENGEMBANGAN PETERNAKAN INDONESIA (YAPPI) email: teamyappi@gmail.com WA: 0813 1036 9438

REGENERASI TECHNICAL SERVICE INDUSTRI PETERNAKAN

 Oleh : Drh Dedy Kusmanagandi MM


Di bidang agribisnis peternakan, Technical Service (TS) adalah salah satu jabatan yang memiliki tugas pelayanan teknis yang berkaitan dengan produk atau jasa perusahaan. Namun secara  operasionalnya di lapangan ternyata cakupan tugasnya cukup bervariasi, tergantung kepada jenis perusahaan dan manajemen perusahaannya. Bertanggung jawab ke Departemen Layanan Teknis ( Technical Servise Departement ) seorang TS bertugas mendampingi bagian pemasaran untuk mengoptimalkan pelayanan perusahaan. Namun demikian kenyataan di lapangan penetapan strategi dan penentuan ‘gugus tugas’ (Job Dis) lebih sering dibawah koordinasi langsung Manajer Pemasaran. Oleh karena itu wajar saja bila terkadang sulit membedakan antara TS dan Salesman. Dibeberapa perusahaan bahkan fungsinya bertindak sebagai ‘General Salesman’ - yaitu melakukan promosi, penjualan, pengiriman barang, penagihan, serta melakukan pelayanan teknis sekaligus. 


TS generasi pertama, antara tahun 1980 – 1990 di perusahaan  obat hewan, memiliki variasi nama yang berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lain, diantaranya : Veterinary Technical Sales Representative (VTSR), Veterinary Technical Service (VTS),Veterinary Advisor (Vet Ad), Veterinary Representative (Vetrep),  Marketing Representative (MR), Sales Promotor (SP), Sales Executive (SE), serta nama-nama lain yang sangat variatif tetapi tugasnya sama, yaitu bertanggung jawab terhadap tercapainya target penjualan. Trend merekrut Dokter Hewan sebagai TS dimulai sekitar tahun 1980 mengikuti keharusan penggunaan resep dokter hewan pada  penjualan obat keras yang merupakan komponen utama pemasukan perusahaan. Namun pada periode berikutnya Sarjana Peternakan pun banyak yang menjabat TS setelah perusahaan makanan ternak dan pembibit melakukan ekspansi pemasaran.

TS generasi pertama kini telah banyak yang menempati posisi penting di perusahaan-perusahaan besar, bahkan menjadi pemilik perusahaan kelas menengah. Sebagian lagi, ‘Alumni TS’ banyak yang sudah beralih profesi ke berbagai bidang yang masih terkait dengan bidang kesehatan hewan atau produksi peternakan, tetapi tidak sedikit yang kini bergerak di bidang usaha yang tidak ada sangkut pautnya dengan bidang perunggasan seperti bengkel mobil, furniture, bidang pendidikan, elektronik dan komputer,  perdagangan umum, asusransi, serta pelayanan jasa lainnya. Satu hal yang sangat menarik adalah, bagi orang-orang tertentu, kecintaan yang sangat dalam terhadap profesi TS ini sungguh luar biasa. Mengunjungi peternakan yang akrab dengan alam pedesaan, pegunungan, bukit-bukit hijau, adalah momen yang tidak dapat tergantikan. Apalagi bila kita dapat membantu orang yang sedang kesulitan karena ternaknya terserang wabah penyakit. Senyum kebahagiaan peternak jauh lebih bernilai dibandingkan  bonus penjualan akhir tahun. 

Kesetiaan orang-orang yang menjalankan tugas TS selama lebih dari  20 tahun bukan suatu hal yang biasa-biasa saja. Apalagi bila dia menolak ketika dipromosikan ke posisi jabatan yang lebih tinggi, karena begitu cintanya dia dengan tugas lapangan.  Terkadang hal ini membuat pimpinan perusahaan tidak bisa mengerti.. Beberapa orang luar biasa ini bahkan menjalani tugas sebagai TS  tetap dalam satu perusahaan, sejak dia lulus kuliah hingga saat pensiun tiba, tanpa terlintas untuk berpaling ke perusahaan lain. Berbahagialah orang-orang yang dapat melampaui rentangan waktu yang demikian panjang, dalam satu profesi yang bagi sebagian orang merupakan tugas dengan tingkat ‘stress’ yang cukup tinggi.

Penetapan anggaran, pembagian area, supervisi, sampai kepada evaluasi dan audit pemasaran adalah stress pertama yang harus dihadapi TS dalam melaksanakan tugasnya. Harga produk yang tidak kompetitif, promosi yang terbatas, biaya operasional yang super hemat, manajemen yang tidak ramah adalah stress internal yang sering datang secara latent – bisa datang kapan saja.  Stress berikutnya datang dari lingkungan eksternal  perusahaan, dimana persaingan bisnis obat hewan berjalan  sangat kompetitif,. Terbatasnya jumlah pelanggan, jarak dan lokasi peternakan yang sangat jauh dan sulit dijangkau, fasilitas tidak memadai, tuntutan stamina fisik yang prima, serta semakin banyaknya perusahaan obat hewan pesaing, baik lokal atau impor yang  bermunculan, sungguh merupakan suatu tantangan yang tidak ringan untuk dilalui.

Tidak banyak perusahaan yang secara bijak melakukan studi pendahuluan terhadap kelayakan penempatan seorang TS di suatu daerah. Yang sering terjadi adalah pengambilan keputusan linier, yakni bila populasi ternak padat, maka seorang TS harus ditempatkan berapapun biayanya, apapun resikonya, yang penting nama perusahaan berkibar, tetapi bila tidak ada kontribusi yang memadai maka TS harus dipecat, minimal harus dimutasi bila target omzet penjualan tidak terpenuhi. Yang lebih lucu lagi bila pimpinan perusahaan penuh gengsi. Bila mendengar perusahaan competitor menempatkan seorang TS, maka perusahaannya pun harus menempatkan TS, kalau bisa lebih banyak jumlahnya.

Studi kelayakan penempatan seorang TS yang asal jadi adalah desain stress yang struktural. Memang benar,  stress yang terukur dan  terkendali sangatlah membantu produktivitas.  Tetapi harus ada ‘shockbreaker’ yang cukup, karena ketahanan seseorang terhadap stress berbeda-beda. Banyak TS yang langsung diare begitu mendapat peringatan lisan pertama.  Tetapi ada juga yang ‘mental badak’ -, tetap bebal meskipun sudah mendapat surat peringatan terakhir dan hanya terpecut ketika dia diremehkan oleh calon mertua atau dilecehkan oleh mantan. 

Pemasaran obat hewan seringkali mengandalkan ‘personal selling’ sebagai ujung tombak pemasaran, sehingga mau tidak mau, menuntut manajemen harus cerdas dalam mengelola gugus pemasarannya. Jurus ampuh untuk menggerakkan  potensi dalam diri seseorang adalah ‘motivasi’.  Orang malas adalah orang yang belum termotivasi. Dan suatu target tidak tercapai adalah karena salah dalam memotivasi.  Banyak manajer merasa telah memotivasi anak buahnya, padahal yang terjadi adalah, dia hanya memindahkan stress yang diterimanya dari atasan dan mendistribusikannya kepada bawahan. Banyak manajer yang sudah menguasai ‘ilmu berkelit’ bila targetnya tidak tercapai. Sebagian bahkan sudah punya ‘bahan presentasi dan‘kompilasi data yang indah’ yang dapat mendukung argumennya bila  suatu saat ‘Bos Besar’ datang dengan wajah penuh ketidakpuasan.

Tentu selalu ada manajer professional yang  siap dengan resiko demi membela bawahannya. Sepanjang dia mampu dia akan pasang badan untuk menjaga marwahnya, apalagi bagi sesama kolega atau kawan se-almamater.   Namun demikian cepat atau lambat, akan tiba saatnya Bos Besar meminta ‘regenerasi’ karyawan, atau merotasi gugus depan yang sudah kurang produktif. Bagaimanapun juga tidak banyak orang yang fisiknya tetap terjaga untuk menjalankan tugas pokok dan fungsi seorang TS yang profesional. Mungkin saja masih ada Bos Besar yang harus membuat keputusan ‘sadis’  dengan mencari-cari alasan agar seorang TS segera “pensiun dini’ dengan biaya PHK seminimal mungkin.

Regenerasi adalah kata yang lebih bijak dari pada pemutusan hubungan kerja (PHK). Pemutusan hubungan kerja seharusnya diharamkan oleh perusahaan kecuali bila karyawan yang memintanya. Konsep PHK seharusnya diganti dengan konsep ‘Alternatif Hubungan Kerja’ bagi pekerja lama, dan konsep Regenerasi bagi penggantian karyawan lama oleh pekerja baru.  Tentu tidak mudah menemukan posisi yang tepat bagi orang yang akan diregenerasi, hampir sama sulitnya dengan mencari calon pengganti yang kompeten bagi jabatan TS. Namun regenerasi harus berjalan, karena ini proses alami.  Manajemen harus menemukan desain yang baik, seperti menjadikan karyawan lama sebagai distributor, supplier, tenaga ahli, konsultan, atau posisi lain disertai dengan program ‘Golden Shakehand” bagi yang memang sudah saatnya pensiun.

Pada rentang tahun 2009 - 2019 ini, beberapa orang yang meniti karir mulai dari jenjang TS sudah mulai memasuki masa pensiun.  Seiring dengan hal tersebut, beberapa rekan senior Dokter Hewan dan Sarjana Peternakan, mengabarkan putera-puterinya telah ada yang diwisuda mengikuti jejak orang tuanya dan mulai mengisi formasi lowongan kerja yang tersedia.. Dengan demikian maka regenerasi yang biasanya terjadi melalui jenjang ‘kakak kelas - adik kelas’ kini telah terlewati, dan mulai masuk ke periode ‘Bapak kelas - Anak kelas’  atau jenjang ‘orangtua – anak’.  Pergeseran ini merupakan periode bersejarah karena banyak hal telah berubah.

Regenerasi TS kini telah melahirkan perbedaan yang signifikan dalam komunikasi pemasaran. Era Pemasaran Digital telah menjadi ranah baru pemasaran obat hewan. Adanya Market Place telah membuka peluang kreatif dan efisiensi distribusi. Kemudahan akses global B telah memperbaharui pola hubungan principal, distributor dan pelanggan. Telah banyak Investor yang langsung berinvestasi karena besarnya pasar Indonesia, dan umunya menggaet mantan TS senior sebagai partner, sebagai pembuka akses kepada peternak dari berbagai kalangan.  

Segmen peternak kalangan menengah atas kini dominan sebagai kontributor omzet penjualan, sedangkan segmen menengah bawah terutama Broiler sudah mulai diabaikan, kecuali yang terjaring dalam suatu himpunan massif atau tergabung dalam Kerjasama Manajemen. Meskipun komunikasi tatap muka masih penting, tetapi esensi hal tersebut lebih menjurus kearah ‘entertainment’ ketimbang proses transfer pengetahuan teknis. Banyak peternakan kini sudah memiliki tenaga ahli sendiri dan memiliki akses yang baik terhadap sumber informasi dan teknologi. Implikasinya, TS saat ini dituntut untuk terus ‘meng-update’ pengetahuan dan keterampilannya secara berkelanjutan sehingga bertransformasi menjadi Konsultan Profesional yang mampu menjadi bagian dari solusi. Bagi perusahaan yang memiliki komitmen, hal ini merupakan tantangan bagi manajemen untuk memiliki Departemen R & D, HRD, IT, UX (User Xperience) dan Customer Care yang lebih terintegrasi dengan kompetensi tinggi dan responsif.

Saat ini orang yang mengakses website terhadap suatu produk yang fungsional akan semakin banyak, sehingga website yang dimiliki perusahaan dapat dipertimbangkan untuk bertrabsformasi menjadi sebuah “Aplikasi”.  Namun jika yang mengakses sangat sedikit, maka hal ini juga dapat dibaca sebagai indikasi bahwa mungkin website atau aplikasi perusahaan kurang menarik, terlalu lambat, terlalu biroktaris, atau kebutuhan informasi yang diinginkan tidak terpenuhi oleh website dan aplikasi kita. Memang begitu banyak Web, Blog, Apps atau portal yang bagus untuk menjadi patok duga (benchmark), tetapi bukan berarti kita harus bersaing dengan sesuatu yang bukan domain kita. Yang lebih realistis dilakukan perusahaan untuk membantu TS nya adalah dengan menghimpun semua informasi yang relevan dengan kebutuhan TS, kemudian mentransformasinya dalam format yang aplikatif dan menghasilkan benefit. Penampilan website yang memiliki ‘Link’ dengan pusat informasi yang searah dengan missi perusahaan akan sangat memudahkan dan memperoleh apresiasi yang tinggi dari pelanggan.

. Era TS generasi baru sudah mulai merupakan kebutuhan. Namun bukan hanya   Notebook dengan ‘Mobile Modem’ yang harus melengkapi seorang TS.  Bekal dari manajemen berupa training dengan masa inkubasi yang cukup hendaknya mendasari pola komunikasi dan bekerja sama dalam memperkuat komunitas. Sudah saatnya kita menghadirkan pola persaingan yang bersahabat. Zaman persaingan ‘berdarah-darah’ hanya tinggal di jalur Gaza atau Syria.  Sedangkan di jalur ‘Parung – Gunung Sindur’ , ‘Blitar - Kediri – Pare’, Medan – Pantai Labu, Pangkajene Sidrap atau jalur padat ternak lainnya sudah harus menampilkan peta persaingan yang “Coop-tative” yaitu “Cooperation in Competitive Season” – Kerjasama dalam suasana persaingan yang sehat. Ikhtiar memang harus dilakukan, tetapi jangan sampai mencederai persaudaraan kita sebagai TS yang bermartabat. Semoga regenerasi TS akan menjadikan bidang peternakan menjadi tulang punggung pertumbuhan nasional.  (DKG)  

Penulis adalah Wakil Ketua YAPPI

 

Share this:

Profil

 
Copyright © 2014 YAPPI. Designed by OddThemes